Kumulus yang Hilang

Siang ini matahari masih bersembunyi dibalik kumulus. Hembusan angin menerpa wajah innocent-ku yang membuat hati terasa syahdu. Ada kerinduan disana, rindu akan seseorang yang sudah lama kunanti dan kudambakan. Menanti sosok yang mungkin tak bisa ku raih. Hanya mampu berangan-angan untuk bisa memilikinya. Saat ini aku terlalu hanyut dalam penantian. Penantian yang tak berujung. Vicko, nama yang tak akan pernah hilang dari ingatanku. Dia lah sahabat sekaligus cowok imajinasiku. Ok Next, aku seorang gadis 19 tahun yang saat ini masih menyandang status jomblo. Gadis yang tercipta dengan sejuta impian. Yaa.. sebut saja namaku Vita.
“ Hei.. Bengong aja. Ngelamunin apa sih?” Sapa seseorang yang sudah taka asing lagi bagiku
“ Gak usah ngagetin bisa kali.” Jawabku dongkol
“ Lagian akhir-akhir ini aku perhatikan kamu sering ngelamun dan senyum-senyum gak jelas. Entar kesambet baru tau rasa loh.”
“ Sok tau kamu. Aku lagi mumet aja. Soalnya antara hati dan otakku gak kompak.” Jawabku mencoba menjelaskan
“ Kamu ngomongin apa sih?” Tanya Vicko polos
“ Tau ah. Ngomong sama kamu tuh ribet. Dijelasin juga gak bakal ngerti.” Celotehku ke Vicko yang gak pernah peka masalah cinta
Aku sudah memilikinya sebagai sahabat, tapi saat ini aku malah menginginkannya lebih dari seorang sahabat. Mungkin sebutan egois sangat cocok untukku saat ini. aku sudah lama mencintainya. Dan aku gak bisa terus menerus seperti ini. Cerita cintaku seperti matahari yang bersembunyi dibalik Kumulus.
Sore ini dia mengajakku jalan-jalan. Entah kemana dia akan mengajakku, aku juga tidak tahu. Tepat pukul 15:30 WIB BMW merah mendarat di depan rumah. Vicko sudah sampai di rumah dan kebetulan aku juga sudah siap. Aku pun menghampirinya. Dan setelah semuanya siap, vicko menghidupkan mesin mobil dan siap menyapu jalanan. 30 menit kemudian kita sampai ditempat tujuan. Namun satu hal yang membuatku bingung. Aku pikir dia akan mengjakku ke mall, taman atau tempat favoritnya yaitu pantai. Dan dugaanku semuanya salah.
“ Rumah sakit? Kamu gak salah ngajak aku kesini?” Tanyaku memulai pembicaraan
“ Ada satu hal yang ingin aku tunjukkan sama kamu.” Jawabnya lirih
Aku yang penasaran, berjalan pasrah mengikuti Vicko. Suasana menjadi hening, tak ada yang berani memulai pembicaraan. Pikiran negative sudah menguasai otakku. Karena terlalu penasaran, aku pun mulai bertanya pada Vicko.
“ Sebenarnya apa sih yang ingin kamu tunjukkan?”
Langkahnya terhenti setelah mendengar pertanyaanku. Dia hanya menoleh lantas duduk di kursi. Aku pun menghampirinya dan kini kita duduk berdua dikursi yang sama.
“ Seandainya nanti aku mati, kamu bakalan kangen gak sama aku?”
Pertanyaan itu membuatku bingung dan takut.
“ Itu pasti. Tapi kenapa pertanyaanmu seperti itu?”
“ Percaya gak kalau selama ini aku sakit-sakitan?”
Pertanyaan ini tak kalah membingungkan. Karena setahuku dia baik-baik saja.
“ Enggak. Kamu kan sehat-sehat aja. Udah deh, daritadi pertanyaanmu bikin aku takut.”
“ Apa yang membuatmu takut?”
“ Yaa aku takut. Aku belum siap kalau aku harus kehilangan kamu.”
“ Gagal jantung. Itu penyakit yang aku derita sekarang.” Timpalnya dengan wajah tertunduk
“ Apa? Kamu gak lagi becanda kan??
“ Maaf aku baru ngasih tahu kamu sekarang.”
Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku bungkam, tak berani bicara. Mataku tertuju pada sosok yang mematung di depanku dengan wajah penyesalan. Air mata penyesalan pun menetes di mata pandanya.
“ Dokter bilang, umurku gak akan lama lagi.” Ujarnya dengan suara tertahan
“ Apa gak ada jalan lain??” tanyaku pada Vicko
“ Entahlah… mungkin hanya tuhan yang tahu jawabannya.” Jawab Vicko sekenanya
“ Donor???” Tanyaku sekali lagi
“ Kamu pikir siapa yang mau ngorbanin jantungnya buat aku? Bahkan kalaupun ada, belum tentu sesuai.” Jelas Vicko dengan senyum hambar
“ Tapi aku gak mau kehilangan kamu. Aku.. Aku Sayang sama kamu.
Air mataku tak berhenti mengalir. Aku mencoba membendungnya namun tak berhasil. Mendengar ucapanku, sontak kedua tangan Vicko menyambar bahuku dan memelukku tanpa ada keraguan.
“ Aku lebih sayang dari kamu. Dan ini alasan utamaku kenapa aku selama Ini tidak mengutarakan perasaanku sama kamu. Karena aku takut… aku takut gak bisa bahagiakan kamu. Apalagi mengingat umurku yang gak akan lama lagi.
“ Tapi kenapa harus kamu?? Kenapa harus orang yang aku sayang???
Vicko melepas pelukannya dan mencoba menjawab pertanyaanku.
“ Vita.. terkadang banyak hal yang gak kamu mengerti soal kehidupan. Tentang komet dan ekornya. Sampai kapan pun, ekor itu gak akan berjalan disamping komet. Sama kayak hidup, gak selamanya kamu bisa lakuin apa yang kamu mau.”
Ucapan Vicko menyadarkanku tentang kehidupan. Selama ini, dia berhasil menutupi penyakitnya dihadapanku. Dan bersikap tegar seolah-olah dia tak sakit. Dan sekarang aku sadar, mata panda itu ada bukan karena dia suka begadang seperti yang dia ceritakan. Akan tetapi, salah satu tanda dari penyakit yang dia derita sekarang. Aku janji, aku akan menjadi pelangi yang akan memberikan warna-warna kehidupan sebelum dia pergi.
***
Matahari muncul dari balik kumulus dengan sinarnya seperti biasa dan menyapa hangat semua makhluk hidup tanpa terkecuali. Suara kicau burung pun terdengar indah dan menjadi penyemangatku dipagi ini. Namun, aku masih terbaring malas. Dan sepertinya matahari akan marah padaku jika aku terus tertidur seperti ini. Cahaya matahari pagi menembus ke seluruh isi ruangan di kamarku dan masih saja mata ini tertutup rapat diperaduannya. Sinarnya terus terbayang- bayang diwajahku dan sepertinya aku harus mengalah pada matahari.
“ Uuaaahhh… “ Teriakku sambil menguap
Hari ini adalah hari yang paling kubenci karena harus bangun pagi. Dengan setengah meloncat aku pun menuju kamar mandi. Tak membutuhkan waktu yang lama untukku mempercantik diri. 20 menit kemudian, dan aku siap berangkat kuliah. Hmmm… bukan hal baru buatku jika di hari senin jalanan macet. Dan hal ini sangat menyita waktuku untuk sampai ke kampus tepat waktu. Pukul 07:20 WIB aku tiba di kampus. Ku langkahkan kakiku menuju kelas. Sesampainya di kelas, kuedarkan pandanganku ke seluruh isi ruangan. Dan aku tak mendapati sosok yang aku cari.
“ Dewi… Vicko belum datang??” tanyaku penasaran
“ Belum. Dia kan biasa telat. Mungkin entar lagi dia datang.” Jawabnya dengan mata tak lepas dari novel teenlite yang dia baca
Yaa.. vicko memang suka telat. Tapi ini sudah melewati batas telatnya. Rasa khawatir menggelutiku saat ini. Tak lama kemudian, pak Ongky datang dan mata kuliah pun dimulai. Seperti biasa, Pak Ongky menjelaskan materi dengan caranya yang membosankan. Sementara aku hanya menatap kosong sosok yang berdiri di depan kelas. Sangat membosankan. Satu jam berlalu dan kuliah hari ini selesai.
“ Ok , cukup sekian kuliah hari ini. Kita ketemu minggu depan.” Ujarnya mengakhiri perkuliahan
Kuliah selesai, dan materi yang disampaikan ngambang di otakku. Hhh… rasa khawatirku belum tertuntaskan. Aku merogoh HP di tas dengan maksud akan menghubungi Vicko. Kubuka kunci layar handphone, dan mataku memincing ketika mendapati message dari mamanya Vicko yaitu tante Ana yang mengatakan bahwa Vicko masuk rumah sakit dan keadaannya sedang kritis. Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kakiku menuju mobil dan melesat ke rumah sakit. Ah .. sayang sekali, Surabaya selalu sesak dengan kendaraan. Tak ada pilihan lain, selain menunggu kemacetan ini berakhir. Bukannya semakin cepat berakhir, kemacetan ini malah semakin lama. Sementara perasaanku sudah mulai tidak enak ketika membaca message yang dikirim oleh tante Ana.
“ Sial !! disaat kayak gini malah macet segala.” Umpatku
Setengah jam berlalu, dan aku pun sampai di rumah sakit. Di sudut sana, kedua orang tua Vicko menunggu di depan ruangan Vicko diperiksa. Kuedarkan pandanganku pada tante Ana yang tengah menelungkupkan wajahnya dalam-dalam. Lantas pandanganku beralih pada om Hendra yang sedang berdiri menyandarkan punggungnya di tembok. Langkahku terhenti di samping tante Ana yang sedaritadi tak henti-hentinya menangis.
“ Tante, bagaimana keadaan Vicko??”
Tante Ana hanya mengedikkan bahu. Hhhh… Aku pun menghela napas panjang lantas ikut duduk di samping tante Ana.
“ Selama perjalanan ke rumah sakit, Vicko minta tante untuk mengirimkan message ke kamu dan memberitahumu tentang keadaan Vicko sekarang ini.” Ucap tante Ana dengan suara tertahan
“ Hhhh… tante pikir, Vicko belum ngasih tahu kamu tentang penyakitnya. Karena setahu tante, Vicko merahasiakan ini dari kamu. “
“ Vita sudah tahu semuanya dari Vicko. Dia itu sosok yang kuat dan tegar. Dia berhasil memainkan skenarionya selama ini. Bahkan aku tak menyadarinya kalau dia sedang sakit.” Jawabku lirih
Tiba-tiba pintu dibuka dan keluarlah seorang dokter dari balik pintu. Lantas kami berdiri dan mendekati dokter tersebut.
“ Gimana keadaan anak saya, dok??” Tanya tante Ana
“ Vicko belum sadarkan diri. Seharusnya Vicko dibawa sejak minggu lalu, jantungnya semakin bermasalah.” Ujar sang dokter tanpa bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Seketika tubuh tante Ana runtuh ketika mendengar penjelasan dari dokter.
“ Mama.. “ om Hendra sigap menahan tubuh tante Ana
“ Saya permisi dulu.”
“ Kenapa .. “ lirih tante Ana, air matanya semakin deras. Seketika om Hendra memeluknya dengan erat
“ Kenapa harus Vicko, pa??” Tanya tante Ana dengan sangat pelan dan bibir yang tak henti-hentinya bergetar
“ Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa saat ini, ma. Yang harus kita lakukan sekarang, banyak-banyaklah berdo’a agar anak kita sadar.” Ujar om Hendra mencoba menenangkan

Aku tak sanggup mendengar percakapan mereka lagi. Dengan langkah gontai, aku menuju taman di sekitar rumah sakit yang tak lain untuk menenangkan diri dan membuang pikiran negative. Bisa dikatakan, taman ini adalah tempat favorit kedua Vicko setelah pantai. Dan letaknya cukup jauh dari kamar Vicko dirawat.
2 hari kemudian …
Sudah 2 hari ini Vicko belum ada perkembangan. Sosok yang aku sayang masih terbaring lemah. Satu jam aku berada di rumah sakit menemani Vicko dan tentunya bersama tante Ana dan om Hendra. Sosok yang tegar dan ceria terlihat beda saat ini. Biasanya dia mati-matian membuatku merasa dongkol dan jengah dengan sikapnya yang tidak pernah peka, tapi sekarang aku malah merindukan sosok itu. tak henti-hentinya mata ini menatap sosok yang mematung dengan keadaannya yang sama. Dia semakin kurus dan wajahnya pucat.
Tunggu .. Tunggu .. jari tangan Vicko bergerak.
“ Tante, Om … Vicko sadar.” Serentak om Hendra dan tante Ana terlonjak dari duduknya. Senyum manis merekah di sudut bibir kami.
“ Vicko.” Sapa kami serentak
“ Haii .. “ Vicko tersenyum dan kami menatapnya sedih
“ Pada kenapa sih?? Aku sadar bukan buat liat orang-orang yang aku sayang nangis.” Kata Vicko
Mendengar perkataan Vicko, kami pun tersenyum lega. Obrolan-obrolan kecil kami lakukan untuk meluapkan rasa rindu kami terhadap Vicko. Dan untuk seharian ini keadaan Vicko cukup membaik. Senyum simpul terpancar dari wajah orang tua Vicko, begitu juga dengan aku. Bisa dikatakan, aku adalah orang yang paling bahagia saat ini. Karena kumulus masih bisa bertahan untuk matahari.
***
Ku putuskan seharian ini untuk tidak kuliah. Entah kenapa rasanya ingin menghabiskan seharian full bersama Vicko. Aku berlari kecil di koridor rumah sakit, tak sabar ingin melihat sosok yang aku sayang dan aku banggakan selama ini.
“ Selamat pagi.” Ku lontarkan senyuman termanisku padanya
“ Iya, selamat pagi.” Vicko membalasnya
“ Kamu gak kuliah?” tanya Vicko
“Aku ingin berdua sama kamu seharian full. Dan please, untuk hari ini aja gak usah ngomongin kuliah.”
“ Loh kok gitu??kuliah kan buat masa depanmu? Kamu bukan anak kecil lagi yang setiap hari harus diingatkan terus. “
“ Vicko, udah deh. Aku juga udah tahu itu, jadi kamu gak perlu ngulang-ngulang lagi. Sehari ini aja.”
“ Ok. Tapi aku bosan disini. Aku bosan selama 3 hari ini tidur terus. Aku ingin ke taman rumah sakit. Kamu mau kan bawa aku pergi dari sini?? Gak akan lama kok, sebentar aja.” Pinta Vicko
Melihat keadaannya yang stabil, aku pun mengiyakan. Aku mulai mendorong kursi roda yang vicko naiki menuju taman rumah sakit. Saat sampai, kami pun disapa oleh bau tanah yang merebak dan tetesan air yang bergelantung di ranting-ranting pohon.
“ Vicko, lihat itu. Mataharinya masih bersembunyi dibalik kumulus.”
Vicko menatapnya lalu bertanya.
“ Mengapa matahari memilih bersembunyi dibalik kumulus?? Padahal kumulus ingin melihat pancaran sinarnya yang indah.” Tanya Vicko
“ Karena matahari belum siap memperlihatkan sinarnya pada kumulus. Makanya, matahari lebih memilih bersembunyi dibalik kumulus.” Jawabku sekenanya
“ Tapi aku ingin melihat matahari bersinar sepenuhnya. Dan hal itu akan terjadi ketika kumulus pergi dari hadapan matahari. “ sambung Vicko
Aku menangkap kata-kata itu sebagai ucapan selamat tinggal. Aku berpikir bahwa Vicko sadar bukan untuk sembuh, tapi hanya untuk mengizinkan orang-orang yang dia sayang melihat senyumnya untuk yang terakhir kali.
“ Vicko, kita balik yuk.” Ajakku
“ Ntar Vit. Tunggu kumulusnya pergi dari hadapan matahari.” Vicko menolak
Akhirnya, aku pun kembali menatap benda langit yang menggantung indah bersama sosok Vicko untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah itu, bersamaan dengan kumulus yang lenyap, mata Vicko pun perlahan merapat.
“ Kumulusnya sudah hilang, ayo kita balik.” Ucapku lirih
Aku tau bahwa jiwa Vicko telah meninggal raganya. Air mataku tak henti-hentinya menetes. Kugenggam tangan Vicko yang dingin untuk terakhir kalinya. Kudorong kembali kursi roda itu. Tapi kini tentu berbeda, karena raga yang duduk diatasnya tak lagi bernyawa. Aku pun terdiam, merasakan gejolak kesedihan dalam relung hati. Kini, kumulus yang kugami telah hilang.

Iklan

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!